
Ada fenomena yang setiap tahun membuat jutaan siswa mendadak berubah wujud menjadi pendekar pencari masa depan. Namanya SNBT. Begitu pengumuman jadwal keluar, para pejuang kelas 12 langsung mengaktifkan Jurus Begadang Seribu Latihan Soal. Buku-buku yang selama ini tidur damai di rak mendadak dibuka. Bimbel penuh. Grup WA ramai. Bahkan ada yang mulai akrab dengan soal matematika seperti sedang menjalani hubungan serius. Padahal sebelumnya melihat angka saja sudah ingin pindah jurusan ke peternakan lele.
Tips pertama, jangan mengandalkan Jurus Belajar Sistem Kebut Semalam. Jurus ini terkenal mematikan, tapi yang mati biasanya harapan sendiri. SNBT bukan lomba menghafal seperti mengingat lirik lagu galau. Yang dibutuhkan adalah latihan rutin. Sedikit demi sedikit, tapi setiap hari. Anggap saja otak itu seperti otot. Kalau baru sehari angkat galon lalu berharap jadi binaragawan, hasilnya paling cuma pegal dan menyesal.
Tips kedua, pilih jurusan jangan karena ikut-ikutan teman atau tetangga yang katanya “prospeknya cerah”. Banyak pendekar muda tersesat karena memakai Jurus FOMO Abadi. Teman masuk kedokteran, ikut. Teman masuk teknik, ikut. Teman masuk ilmu perbintangan, ikut juga. Akibatnya saat kuliah malah merasa seperti ikan lele yang dipaksa memanjat pohon mangga. Pilih jurusan yang sesuai minat, kemampuan, dan cita-cita. Karena yang akan menjalani kuliah bertahun-tahun itu dirimu, bukan temanmu, bukan tetanggamu, apalagi admin grup keluarga.
Kalau nanti berhasil masuk kampus, ingatlah bahwa kuliah bukan sekadar berburu nilai IPK sambil mengoleksi foto wisuda. Kampus adalah tempat mengasah Jurus Bertahan Hidup Dunia Nyata. Perbanyak teman, organisasi, pengalaman, dan kemampuan baru. Jangan cuma datang ke kelas, absen, lalu pulang seperti pegawai honorer kerajaan zaman dulu. Sebab setelah lulus, yang dicari dunia bukan hanya selembar ijazah, tetapi juga kemampuan, karakter, dan mental baja menghadapi kehidupan. Camanewak!