
Abdul Latif, siswa kelas 10 SMAN 57 Jakarta, punya satu kebiasaan yang sulit dihilangkan: percaya pada tahayul.
Kalau cicak jatuh di dekatnya, dia langsung waspada. Kalau sendok jatuh, katanya bakal ada tamu. Kalau kuping panas, pasti ada yang sedang ngomongin dirinya.
Malam itu, saat hendak tidur, tiba-tiba mata kanan Latif kedutan.
“Kedutan mata kanan…” gumamnya sambil mengingat berbagai mitos yang pernah ia dengar.
Belum sempat selesai berpikir, telapak tangan kanannya ikut terasa berkedut.
Mata Latif langsung membesar.
“Wah! Kombinasi langka!”
Menurut mitos yang ia percayai, mata kanan kedutan berarti akan mendapat kabar baik. Telapak tangan kanan gatal atau berkedut berarti akan menerima uang.
Di kepalanya mulai bermunculan berbagai kemungkinan.
“Jangan-jangan besok aku menang undian.”
Atau…
“Mungkin ada om kaya yang tiba-tiba ngasih aku warisan.”
Atau yang paling tidak masuk akal…
“Bisa jadi aku menemukan koper berisi miliaran rupiah di jalan.”
Latif tersenyum sendiri.
Malam itu ia tidur dengan sangat bahagia. Bahkan sebelum tidur, ia sempat membuka aplikasi belanja online dan memasukkan berbagai barang ke keranjang.
Sepatu baru.
Headset gaming.
Jersey timnas.
Dan sebuah kursi gaming yang harganya hampir sama dengan biaya hidup sebulan.
“Nanti kalau uangnya datang tinggal checkout,” katanya penuh keyakinan.
Pagi harinya, Latif bangun dengan semangat.
Hari keberuntungan telah tiba!
Ia berangkat menuju sekolah seperti biasa.
Namun baru beberapa menit naik angkot, terdengar suara aneh.
BREK!
GRRRT!
Angkot mendadak berhenti.
Mesinnya mati.
Sopir turun sambil menggaruk kepala.
“Mesinnya mogok, Dek.”
Senyum Latif langsung memudar.
“Loh… kok begini?”
Para penumpang turun satu per satu.
Latif melihat jam.
Waktu terus berjalan.
Ia menoleh ke kanan dan kiri berharap ada angkot lain lewat.
Tidak ada.
Yang ada hanya panas matahari dan debu jalanan.
Dengan sangat terpaksa ia mulai berjalan kaki menuju sekolah.
Awalnya jalan cepat.
Lalu jogging.
Kemudian berubah menjadi lari kecil.
Tak lama kemudian berubah menjadi lari besar.
Tasnya berguncang ke kiri dan kanan seperti bandul jam.
Napasnya ngos-ngosan.
Keringat bercucuran.
Dalam hati ia terus berdoa.
“Ya Allah, semoga kedutan semalam benar.”
Yang ia takuti bukan pelajaran pertama.
Melainkan hukuman terlambat.
Di SMAN 57, siswa yang terlambat harus membersihkan WC sekolah.
Bagi Latif, itu lebih menyeramkan daripada ulangan matematika mendadak.
Akhirnya gerbang sekolah terlihat.
Mata Latif berbinar.
Ia segera melihat jam tangannya.
06.59.
Belum jam tujuh!
Latif hampir menangis bahagia.
“Alhamdulillah! Ini dia keberuntungan yang dijanjikan!”
Katanya sambil tersenyum lebar.
Dengan percaya diri ia mengetuk pintu gerbang.
Tok tok tok.
Pak Satpam membukakan pintu.
“Silakan masuk, Latif.”
“Nah kan! Saya tepat waktu!”
Latif melangkah masuk dengan penuh kemenangan.
Namun tiba-tiba dari kejauhan terlihat sosok Pak Anwar, guru kesiswaan yang sangat terkenal di kalangan siswa.
Pak Anwar tersenyum.
Senyum yang membuat banyak siswa merinding.
Beliau melambaikan tangan.
“Latif… sini sebentar.”
Jantung Latif mendadak berdebar.
Dengan langkah ragu-ragu ia menghampiri.
Pak Anwar kemudian menyerahkan sebuah sikat WC.
“Silakan bergabung dengan teman-teman yang lain.”
Latif melongo.
“Hah?”
“Membersihkan WC, Pak?”
“Iya.”
“Tapi saya belum terlambat!”
Pak Anwar mengangkat alis.
“Siapa bilang?”
“Saya lihat jam tangan saya. Masih jam 06.59!”
Pak Anwar menunjuk jam besar di dekat pos satpam.
Latif menoleh.
Pukul 07.12.
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak mungkin…”
Ia melihat kembali jam tangannya.
Jarumnya memang menunjukkan 06.59.
Tidak bergerak.
Sama sekali.
Pak Satpam menahan tawa.
Pak Anwar ikut tersenyum.
“Latif, itu jam tanganmu mati.”
Latif memutar jamnya.
Mengguncang-guncangkannya.
Tetap diam.
Lalu ia baru sadar.
Sudah beberapa hari jarum detiknya tidak bergerak.
“Habis baterai rupanya…”
Teman-temannya yang sedang antre hukuman langsung tertawa.
“Woi, manusia dari masa lalu!”
“Ada yang masih hidup di jam 06.59!”
“Mungkin baterainya ikut kedutan semalam!”
Latif hanya bisa menunduk pasrah sambil menerima sikat WC.
Saat mulai menggosok lantai kamar mandi, ia menghela napas panjang.
“Jadi ini arti keberuntungan semalam?”
Temannya menjawab cepat.
“Iya.”
“Apa?”
“Beruntung cuma disuruh bersihin WC. Coba kalau disuruh bersihin seluruh sekolah.”
Semua tertawa.
Termasuk Pak Anwar.
Latif menatap langit-langit WC.
Lalu bergumam pelan,
“Mulai hari ini aku tidak akan percaya tahayul lagi.”
Saat itu juga telinga kirinya mendadak terasa panas.
Latif langsung panik.
“Jangan-jangan ada yang lagi ngomongin gue!”
Teman-temannya kembali tertawa terbahak-bahak.
Ternyata, percaya tahayul memang lebih sulit dihilangkan daripada noda di lantai WC sekolah.